RSS
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

SURVIVAL OF THE FITTEST (YANG TERBAIK YANG BERHASIL)

Menurut Al-Quran, keberhasilan dan kemenangan akhir suatu ajaran tergantung sepenuhnya pada keampuhan argumentasinya dan bukan pada kekuatan material yang dikuasainya. Al-Quran mengatur mengenai hal ini dengan sangat jelas dan tegas. Dikemukakan bahwa meskipun digunakan kekuatan yang amat perkasa guna menghapuskan kebenaran dan membenarkan kebathilan, usaha-usaha demikian akan kalah juga. Nalar pikiran tetap saja akan menang atas kekerasan senjata material. Sebagai contoh, Al-Quran menyatakan :

... Tetapi berkata mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah pada suatu hari: “Berapa kali golongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar maka janganlah takut. (S.2 Al-Baqarah : 250)


Konsep mengenai keunggulan Islam perlu dipahami dalam konteks perintah samawi di atas. Di bagian lain Al-Quran mengemukakan :

... Allah ridha akan mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Mereka itu golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah-lah orang-orang yang berhasil. (S.58 Al-Mujadila : 23)

Ketika saat perang Badar (perang pertama dalam sejarah Islam), pasukan besar penyembah berhala Mekah dihadapkan pada sejumlah kecil prajurit Muslim yang jumlah maupun persenjataannya jauh kalah, dimana mereka terpaksa bertempur mempertahankan keimanannya dan bukan keselamatan dirinya sendiri. Mengenai ini Al-Quran mengatakan:

... Supaya binasalah orang-orang yang telah binasa dengan keterangan yang jelas, dan supaya hiduplah orang yang telah hidup dengan keterangan yang jelas. (S.8 Al-Anfal : 43)

Inilah prinsip abadi yang amat berperan dalam evolusi manusia. Esensi daripada amanah tersebut adalah keberhasilan dari mereka yang terbaik (survival of the fittest). Hal ini juga yang menjadi methodologi daripada evolusi kehidupan.



READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Diin (Agama/Keruhanian) dan Cara Mensikapi Dunia

“Diin (agama/keruhanian) dan dunia tidak dapat bersatu di satu tempat. Kecuali dalam kondisi Allah menghendaki, maka Dia dapat menjadikan fitrat seseorang menjadi tangguh (gigih) sedemikian rupa, sehingga dengan kesibukannya dalam urusan-urusan dunia pun orang itu dapat mendahulukan agamanya. Ada juga orang-orang yang demikian.

Ada uraian tentang seseorang di dalam buku Tadzkiratul Aulia. Orang itu sibuk dalam urusan dagang senilai jutaan rupiah. Seorang waliullah melihatnya, dan memandangnya dengan pandangan kasyaf maka sang waliullah itu pun mengetahui bahwa orang tersebut walau sedemikian rupa dalam urusan perdagangannya, tetapi satu detik pun dia tidak pernah lalai terhadap Allah Ta’ala.

Mengenai orang demikian Allah Taala berfirman: "[Rijaalun] laa tulhiihim tijaaratun wa laa bai’un ['an dzikrillaah] - [Mereka adalah laki-laki] yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual-beli [dari mengingat Allah] - An-Nuur, 38). Dan kehebatan [seorang] manusia adalah, dia tetap sibuk dalam urusan-urusan duniawi namun tetap saja dia tidak melupakan Allah.

Sungguh tidak bergunalah seekor bagal (kuda beban) yang langsung terduduk tatkala dimuati beban, tetapi ketika kosong dia dapat berjalan melenggang. Ia tidak layak dipuji. Seorang faqir yang gentar terhadap pekerjaan-pekerjaan duniawi lalu menjadi petapa, dia memperlihatkan suatu kelemahan.

Di dalam Islam tidak ada rahbaniyyat (meninggalkan dunia dan mengurung diri hanya untuk beribadah saja -pent.). Saya tidak pernah mengatakan agar [kalian] meninggalkan istri-istri dan anak-anak, serta meninggalkan urusan-urusan duniawi. Tidak. Justru seorang pegawai hendaknya menjalankan tugas-tugas kepegawaiannya. Seorang pedagang, hendaknya memenuhi tugas-tugas perniagaannya, namun utamakanlah diin (agama/keruhanian).

Contohnya ada di dunia ini. Para pedagang dan pegawai, walaupun mengerjakan perniagaan dan tugas kepegawaian mereka dengan sangat baik, tetap saja mereka mempunyai istri dan anak­-anak. Mereka memenuhi hak-hak anak-istri secara merata. Demikian pulalah, seorang manusia dapat memenuhi hak-hak Allah Ta’ala beriringan dengan segenap kesibukan tersebut. Dan manusia dapat menjalani hidupnya sangat baik dengan mendahulukan diin (agama/keruhanian) daripada dunia.

Dengan Allah Ta’ala manusia memiliki hubungan fitrati. Sebab di hadapan Allah Ta’ala ketika ditanya, “alastu birabbikum (bukankah Aku Tuhan-mu?), fitrat manusia telah melontarkan ikrar qaluu balaa (benar, mengapa tidak).

Ingatlah, seseorang yang mengatakan, "Pergilah ke hutan belantara dan dengan demikian jauhlah kekotoran-kekotoran dunia, lalu beribadatlah kepada Tuhan," [berarti] dia takut terhadap dunia lalu melarikan diri dan memilih sikap yang tidak jantan.

Lihat, mesin lokomotif adalah benda mati yang menarik ribuan orang bersamanya, dan mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Maka sangat disayangkan atas makhluk hidup yang tidak dapat menarik siapa pun bersamanya.

Allah Ta’ala telah menganugerahkan kekuatan-kekuatan (potensi-potensi) besar pada manusia. Di dalam diri manusia telah ditanamkan sebuah khazanah kekuatan oleh Allah Ta’ala. Tetapi manusia dengan malas menyia-nyiakan kekuatannya, dan oleh perempuan pun terlampaui.

Ini merupakan suatu ketentuan, bahwa kekuatan-kekuatan (potensi-potensi) yang tidak dipergunakan, lambat-laun akan menjadi lenyap. Jika selama 40 hari seseorang tinggal dalam kegelapan maka cahaya matanya akan menjadi lenyap (buta).

Ada seorang saudara kami. Pembuluh darahnya robek maka petugas operasi mengatakan supaya jangan menggerakkan tangan. Karena terlalu hati-hati, dia betul­-betul tidak menggerakkan tangan. Akibatnya, setelah 40 hari tangan itu pun kaku sama­-sekali.

Kekuatan (potensi) manusia – ruhani mau pun jasmani – selama tidak dipergunakan, tidak akan dapat berkembang.

Sebagian orang ada yang percaya bahwa seseorang yang benar­-benar memanfaatkan kekuatannya (potensinya) maka umurnya pun akan panjang. Tanpa fungsi (gerak) maka manusia akan menjadi mati. Jika tidak berfungsi maka yang timbul adalah bencana. “
H.M.G.A
READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dajjal & Kecintaan Pada Dunia

Di dalam Hadits suci tertulis tentang Dajjal: "Laa yadaani li-ahadin liqitaalihi" (tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk memeranginya). Kita tidak dapat melawan Dajjal ini dengan menggunakan sarana-sarana duniawi, sebab sarana-sarana duniawi itu sendiri sangat banyak terdapat padanya. Kita hendaknya memiliki suatu senjata ampuh yang tidak dimiliki olehnya, barulah kita dapat menang.

Pada masa sekarang ini, kecintaan terhadap dunia telah menguasai [segenap] makhluk melampaui batas. Itulah yang ingin kita buang, dan membuangnya adalah pekerjaan yang paling sulit.

Ada tertulis bahwa hal yang paling terakhir terbuang dari dalam nafs (jiwa) adalah kecintaan terhadap dunia. Tanpa suatu kekuatan Samawi (Langit) tidak ada suatu jalan keberhasilan bagi kita.”
H.M.G.A
READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dosa dan Rasa Takut Terhadap Allah

“Hanya ada satu cara untuk menghindarkan diri dari dosa-dosa, yakni dengan timbulnya rasa takut terhadap Allah. Tanpa itu, manusia tidak akan dapat menghindarkan diri dari dosa. Dan rasa takut tidak akan dapat timbul tanpa makrifat (pengetahuan).

Apabila sebilah pedang telanjang diletakkan di atas kepala seseorang, dan dia yakin bahwa apabila dia melakukan hal tertentu maka pedang itu akan menebas kepalanya, maka bagaimana dia akan melakukan hal tersebut? Dia yakin bahwa pedang itu akan menyakitinya.

Jika keyakinan seperti itu ditujukan kepada Allah Ta’ala, dan keagungan serta keperkasaan-Nya tertanam di dalam kalbu, maka dalam bentuk apa pun tidak akan mungkin [manusia] melakukan keburukan.”
H.M.G.A
READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

EMPAT KARAKTERISTIK MASYARAKAT MATERIALISTIK


Apa gerangan yang telah memasukanmu ke dalam neraka? Mereka akan menjawab, ‘Kami tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang. Dan kami tidak memberi makan orang-orang miskin. Dan kami berceloteh bersama mereka yang sibuk berceloteh. Dan kami terus-menerus mengingkari hari pembalasan.’ (S.74 Al-Muddatstsir : 43-47)

Ciri-ciri suatu masyarakat materialistis dan tidak bertuhan telah dikemukakan di atas secara lengkap dan tepat. Ciri-ciri itu adalah :

1 Tidak melaksanakan sembahyang.

2 Tidak memberi makan kepada fakir miskin.

3 Mengejar kesenangan yang sia-sia.

4 Menyangkal akan adanya pertanggungjawaban di Hari Kiamat.

Sebelum membahas lebih lanjut, sebaiknya kita hilangkan dahulu kerancuan yang akan menyulitkan diagnosa keadaan suatu masyarakat. Bahkan pada masyarakat yang kepercayaannya pada Tuhan terlihat kuat serta nyata dan mereka meyakini adanya akhirat sebagai bagian integral dari agama mereka, ternyata kejahatan merajalela yang sebenarnya sulit dipahami bisa ada di tengah pengikut Tuhan dan akhirat dengan kewajiban pertanggung-jawabannya (akuntabilitas).

Muncul pertanyaan, mengapa di masyarakat yang percaya akan Tuhan dan adanya akhirat, materialisme bisa mengakar sedemikian dalamnya? Jawabannya sebenarnya tidak sulit kalau kita teliti kepercayaan mereka secara lebih mendalam. Kenyataan yang ada ialah kepercayaan ketuhanan yang bersifat semu tidak dapat mempengaruhi perilaku kemasyarakatan para penganutnya. Hal ini karena kepercayaan tersebut hanya bersifat akademis dan tidak pernah diterapkan dalam perilaku keagamaan yang bertanggungjawab. Bagaimana mungkin keimanan yang tulus kepada Tuhan berada bersamaan dengan kebohongan, kepalsuan, egoisme yang ekstrim, pengelabuan hak orang lain, korupsi dan kekejaman? Konsep ketuhanan dalam masyarakat demikian hanya bersifat kosmetik, amat maya untuk dapat berperan dalam pembentukan perilaku manusia. Begitu juga dengan kepercayaan pada akhirat dan pertanggungjawaban hanya merupakan bayangan semu dari ajaran semula. Setiap saat, kepentingan individu pada waktu itu selalu mendominasi dan mengabaikan pertimbangan mengenai kehidupan akhirat.

Jika kita berbicara mengenai masyarakat materialistis, kita tidak hanya berbicara mengenai masyarakat yang tegas-tegas menolak pemikiran mengenai ketuhanan dan kehidupan akhirat. Kebanyakan masyarakat theistis atau pun atheistis mungkin terlihat bertentangan secara diametral dalam ideologi mereka, namun nyatanya mereka memiliki sangat banyak persamaan.

READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ASAS PENGABULAN DOA

Inilah segenap upaya dan gejolak dalam diriku yaitu aku berdoa kepada Allah Taala. Banyak harapan-harapan besar dalam keterkabulan doa.” Bahkan ada janji yang jelas dari Tuhan-ku kepadaku, yaitu "Ujību kulla du'a-ika – Aku akan mengabulkan seluruh doa engkau.”

Akan tetapi aku benar-benar mengerti, bahwa yang dimaksud dengan kul (seluruh) adalah hal-hal yang dengan tidak mendengarnya (tidak mengabulkannya) akan menimbulkan kemudaratan. Akan tetapi jika Allah Ta'ala menginginkan tarbiyat dan ishlah (perbaikan) maka penolakan itu sendiri merupakan pengabulan doa.

Kadang-kadang manusia tidak berhasil dalam suatu doa dan dia beranggapan bahwa Allah Ta'ala menolak doanya. Padahal Allah Ta'ala mendengar doanya, dan pengabulan tersebut adalah dalam bentuk penolakan itu sendiri. Sebab baginya -- baik secara terselubung maupun hakikat – manfaat dan kebaikan terdapat dalam penolakan itu sendiri.

Dikarenakan manusia berpandangan sempit dan tidak berpikiran (berwawasan) luas – dan hanya percaya pada hal-hal yang zahir -- karena itu tepat baginya, agar ketika dia berdoa kepada Allah Ta’ala – dan pada kenyataannya tidak memberikan hasil yang bermanfaat kepadanya – maka hendaknya ia jangan berprasngka buruk terhadap Allah Ta’ala bahwa, “Dia tidak mendengarkan doaku”.

Dia mendengar doa setiap orang, “Ud’ūni astajib lakum (berdoalah kepada-Ku, Aku kabulkan bagi kamu). Rahasia dan hikmahnya adalah bahwa manfaat dan kebaikan bagi orang yang berdoa itu terletak dalam penolakan doa itu sendiri. Inilah asas dari doa. Dalam mengabulkan doa Allah Ta’ala tidak mengikuti kehendak dan pikiran kita.

Lihatlah, betapa sayangnya seorang ibu terhadap anak-anaknya, dan sang ibu berkeinginan supaya jangan sampai mereka mendapat kesusahan apapun. Akan tetapi jika anak-anak merengek-rengek meminta hal-hal yang tidak bermanfaat dan menangis meminta pisau tajam atau bara api yang menyala-nyala, maka dalam keadaan adanya kecintaan yang halal serta kasih-sayang yang sejati, apakah seorang ibu akan pernah dapat membiarkan supaya anaknya mengambil bara api lalu membakar tangannya? Atau menghunjamkan tangannya pada mata pisau yang tajam lalu memotong tangannya? Sama­sekali tidak. Dari dasar inilah dapat dipahami mengenai asas pengabulan doa”.

H.M.G.A

READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wahyu Suatu Bukti Yang Perkasa Tentang Adanya Tuhan

oleh karena Zat Allah Ta’ala yang kendati pun sangat cemerlang namun tetap saja sangat tersembunyi, oleh karena itu untuk mengenali-Nya tidak cukup hanya dengan menyaksikan tatanan jasmani yang tampak di hadapan kita saja. Itulah sebabnya kebanyakan orang yang menggantungkan diri pada tatanan ini tetap saja tidak dapat melepaskan diri dari gelapnya keraguan dan kebimbangan. Dan kebanyakan mereka terperangkap dalam berbagai kekeliruan, dan karena terjerat dalam syak wasangka yang sia-sia maka mereka telah tersesat jauh. Padahal mereka merenungkan dengan seksama gugusan sempurna dan kokoh itu yang mengandung ribuan keajaiban. Bahkan mereka telah menciptakan kemahiran-kemahiran di bidang astronomi, ilmu alam, dan filsafat, seolah-olah mereka telah menyatu dengan langit dan bumi. Dan seandainya terpikirkan juga sedikit oleh mereka tentang Sang Pencipta maka itu hanyalah sekedar anggapan yang timbul setelah menyaksikan tatanan yang tinggi dan sempurna, sehingga di dalam hati mereka muncul anggapan bahwa hendaknya memang harus ada suatu wujud yang menciptakan tatanan agung yang mengandung sistem yang penuh hikmah ini. Akan tetapi jelas bahwa pemikiran demikian tidak sempurna, dan itu merupakan makrifat yang dangkal. Sebab mengatakan, “Untuk tatanan ini harus ada satu Tuhan” sekali-kali tidak sama dengan ucapan bahwa, “Tuhan itu benar-benar ada!”.

Ringkasnya, itu hanyalah merupakan makrifat mereka yang bersifat dugaan, yang tidak dapat memberikan ketenangan dan ketentraman kepada hati serta sama sekali tidak dapat menghapuskan kebimbangan kalbu. Dan itu bukanlah suatu mangkuk yang dapat menghilangkan kedahagaan akan makrifat sempurna yang telah dipatrikan pada fitrat manusia. Justru makrifat dangkal demikian itu sangat berbahaya, karena setelah heboh demikian rupa akhirnya tanpa hasil dan tidak membuahkan apa-apa.

Ringkasnya, selama Allah Ta'ala sendiri belum menzahirkan keberadaan-Nya melalui Kalam-Nya -- sebagaimana telah Dia zahirkan melalui perbuatan-Nya selama itu pula penelaahan terhadap perbuatan-Nya semata tidak akan memberikan kepuasan. Misalnya, jika kita melihat sebuah kamar yang terasa mengherankan karena terkunci dari dalam, maka dari perbuatan itu pertama-tama yang pasti terpikirkan oleh kita adalah bahwa di dalam kamar itu pasti ada seseorang telah memasang rantai dari dalam, sebab dari luar tidak mungkin rantai bagian dalam itu dapat dipasangkan. Akan tetapi apabila sampai masa tertentu -- bahkan sampai bertahun-tahun -- kendati pun telah berulang-ulang dipanggil dari orang itu tidak juga ada sahutan maka akhirnya pikiran kita yang beranggapan bahwa ada orang di dalam akan berubah. Dan kita akan berpikir bahwa di dalam tidak ada orang, dan kunci itu telah dipasang dari dalam melalui suatu hikmah tertentu. Demikianlah keadaan para ahli filsafat yang telah membatasi pengetahuan mereka hanya pada penelaahan terhadap perbuatan Tuhan. Ini adalah suatu kekeliruan besar menganggap Tuhan seperti sesuatu yang telah mati, yang dapat dikeluarkan dari dalam kubur hanya oleh manusia. Seandainya Tuhan itu demikian—yang di ketahui oleh usaha manusia—saja
maka seluruh harapan kita berkenaan dengan Tuhan yang demikian itu akan sia-sia.

Justru Tuhan itu adalah Dia yang selamanya dan sejak awal terus memanggil manusia ke arah-Nya dengan menyatakannya sendiri: innal maujuud (Aku ada!). Ini sungguh sangat lancang apabila kita berpikiran bahwa dalam mengetahui tentang Tuhan terdapat ihsaan (kebajikan) manusia atas diri-Nya, dan jika para ahli filsafat tidak ada maka Dia seakan-akan tetap tidak akan ditemukan. Dan mengatakan bahwa, “Bagaimana Tuhan dapat berbicara? Apakah Dia memiliki lidah?” Itu pun suatu kekurang-ajaran. Tidakkah Dia telah menciptakan benda-benda langit dan bumi tanpa tangan-tangan jasmani? Tidakkah Dia melihat seluruh alam semesta tanpa mata asmani? Tidakkah Dia mendengar suara-suara kita tanpa telinga jasmani? Jadi, tidakkah mutlak bahwa Dia juga berbicara dengan cara demikian? Sungguh tidak benar, bahwa di masa mendatang Tuhan tidak bercakap-cakap melainkan hanya di masa lampau saja. Kita tidak dapat menutup ucapan dan percakapan-percakapan-Nya sebatas zaman tertentu saja. Tidak diragukan lagi sekarang pun Dia siap mencurahkan mata air ilham kepada orang-orang yang mencari, sebagaimana sebelumnya Dia siap. Dan sekarang juga pintu-pintu karunia-
Nya tetap terbuka seperti halnya dahulu. Ya, karena segala sesuatu telah sempurna maka syariat serta hukum-hukum pun telah sempurna. Dan seluruh kerasulan serta kenabian telah mencapai kesempurnaannya pada titik akhir dalam wujud Junjungan kita Muhammad saw..
(H.M.G.A)

READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FALSAFAH DO’A

Seseorang bayi yang memekik-mekik dan menjerit dalam keadaan lapar, akan mempengaruhi (membangkitkan) gejolak di dalam susu sang ibu. Bayi tidak mengenal apa itu doa, namun kenapa jeritannya itu menarik air susu ibu? Semua orang mempunyai pengalaman dalam hal ini. Bahkan kadang-kadang kita lihat bahwa para ibu tidak merasakan adanya air susu, tetapi tiba-tiba saja air susu itu tertarik keluar oleh pekik tangis sang bayi. Nah, apakah Allah Ta’ala tidak dapat mempengaruhi (menarik) apa-apa sekali pun ? Dapat! Bahkan dapat menarik segalanya! Namun orang-orang buta ruhani yang duduk sebagai fazil (ilmuwan) dan ahli-pikir (filsuf) tidak akan dapat melihatnya. Sebenarnya hal ini mudah untuk dimengerti apabila kita memahami falsafah yang terkandung di dalam hubungan antara seorang ibu dengan bayinya.

Sifat Rahīm (kasih-sayang) mengisyaratkan, bahwa rasa kasih-sayang itu timbul setelah diminta, oleh karena itu teruslah minta dan kalian akan memperolehnya. Ud'ūnī astajib lakum (berdoalah kepakan Aku kabulkan) bukanlah suatu omong-kosong. Bahkan hal ini merupakan suatu kelaziman di dalam fitrat manusia, bahwa memohon (meminta) adalah sifat manusia, sedangkan mengabulkan adalah Sifat Allah Ta’ala.

Barangsiapa yang tidak memahami tidak mengakui hal ini, orang itu dusta. Permisalan seorang bayi yang saya ungkapkan tadi cukup jelas untuk menerangkan falsafah doa.” (H.MG.A)
READ MORE…
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS